Profil Komite Sastra
|
Komite Sastra - Ketua
AHMADUN Yosi Herfanda. Kelahiran Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958, Ahmadun –sapaan akrabnya- dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang banyak menulis esei sastra dan sajak sufistik. Namun, penyair Indonesia dari generasi 1980-an ini juga banyak menulis sajak-sajak sosial-religius. Sementara, cerpen-cerpennya bergaya karikatural dengan tema-tema kritik sosial. |
Sekretaris
MARTIN Aleida. Kelahiran Tanjung Balai, 31 Desember 1943, Martin mengawali karirnya di dunia tulis menulis dengan menjadi jurnalis. Tiga belas tahun ia bekerja sebagai jurnalis Tempo, lalu beralih Kantor Berita Jepang NHK untuk perwakilan Jakarta selama satu tahun. Ia juga pernah bekerja di United Nations Information Centre (1986 – 2001) sebelum akhirnya berkecimpung di Majalah Tapian sejak 2008 hingga sekarang. |
|
Anggota
Nur Zen Hae. Biasanya dipanggil Zen Hae, aktif sebagai penulis sastra dan sebelumnya menjadi penulis naskah di Bintang Grup. Agar karya-karya sastra dapat dinikmati masyarakat dengan baik, maka ia berharap dapat menyusun berbagai program sastra yang bagus melalui DKJ. Bapak satu putri bernama Hilmiya Thufailah ini lahir di Jakarta, 12 April 1970 dan mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa & Sastra IKIP Jakarta. |
Anggota DIAH Hadaning. Lahir di Jepara, Jawa Tengah, 4 Mei 1940. Serius menulis sejak 1970-an, ia seangkatan dengan Piek Ardianto Soepriadi dan Rita Oetoro. Sejak puisi pertamanya dimuat di Harian Simfoni (1973), ia mulai rajin berkarya. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, novel dalam wujud cerita bersambung maupun artikel, kerap menghiasi berbagai media massa cetak sejak 1980-an. Telah menerbitkan sekitar 35 buah buku, 11 di antaranya merupakan antologi puisi tunggal, 3 buku manuskrip antologi puisi bertema reformasi, masing-masing berisi 50 pucuk sajak, serta novel. Beberapa penghargaan yang pernah ia raih diantaranya Hadiah Gapena dari Pemerintah Malaysia (1980) atas karyanya Manuskrip Surat dari Kota yang memuat 100 puisi. Lembaga Pusat Pengkajian Sastra dan Budaya Jawa, di Solo, memberinya anugerah sebagai penyair yang melestarikan budaya Jawa, karena banyak puisinya yang berakar pada budaya Jawa. |






