Kineforum Memutarkan Sinema Avant Garde dan Neorealisme sepanjang Mei 2012
KINEFILIA
Avant Garde & Redefinisi Film
Programmer: M. Ariansah
Sejak 117 tahun yang lalu, sejarah sinema selalu didominasi oleh sebuah bentuk film yang selalu merujuk pada prinsip-prinsip mainstream. Sebuah sinema yang berorientasi pada naratif dengan pondasi dramaturgi klasik yang dipilah menjadi tiga babak, yakni; pengenalan masalah (babak I) – pengembangan masalah (babak II) – penyelesaian masalah (babak II). Kendati terdapat beberapa inovasi dalam hal struktur, namun tendensi untuk bercerita dalam aturan kausalitas tetap menjadi sesuatu tuntutan yang selalu menghubungkan antara film dengan penontonnya. Bentuk sinema tersebut menjadi sangat dominan sepanjang sejarah, terlebih lagi dengan hegemoni dari Hollywood atas perfilman dunia yang mengukuhkannya menjadi sinema klasik.
Namun sejarah sinema tidak hanya berisi dengan satu bentuk sinema yang dominan semata, tetapi terdapat pula bentuk-bentuk lainnya yang juga sudah jauh ada di masa-masa awal perkembangan film, serta memiliki berbagai varian yang sangat kaya dan inovatif. Jenis sinema ini umumnya tidak terlalu banyak disorot dan memiliki pendukung yang sangat khusus, sebab sangat bertolak belakang dengan prinsip mainstream yang mampu mendapat ruang-ruang sangat lebar dan pembuktian dalam jutaan hingga ratusan juta penonton yang membeli tiket-tiket di bioskop. Bentuk sinema seperti ini disebut dengan sinema avant-garde.
Antara sinema mainstream dan avant-garde tersebut terdapat sebuah ketidakseimbangan dalam sejarah film, dimana puncak-puncak pencapaian estetik bentuk sinema naratif dalam hal manifestasinya pada sinema klasik Hollywood ataupun film seni tercatat secara lengkap ke dalam sejarah film. Sedangkan perkembangan dalam bentuk sinema avant-garde seperti hilang begitu saja tanpa bekas. Padahal, berbagai terobosan yang paling inovatif sepanjang sejarah sering sekali datang dari bentuk sinema ini. Apakah sebenarnya sinema avant-garde tersebut? Serta mengapa muncul sikap diskriminatif dalam sejarah film terhadap bentuk sinema ini?
Un Chien Andalou
Luis Buñuel
Negara Prancis / Tahun 1929 / Durasi 16 menit / 18+
Sebuah film pendek-bisu surealis dari Luis Buñuel dan Salvador Dalí. Sebuah pisau cukur yang mengarah lurus ke mata seorang wanita, awan-awan kecil yang hampir menutupi bulan, mata sapi yang tergorok, seorang pria yang menyeret dua piano besar berisi keledai mati dan pendeta hidup, dan tangan manusia yang telapaknya berlubang di mana semut-semut muncul.
----
La jetée
Chris Marker
Negara Prancis / Tahun 1962 / Durasi 28 menit / Subteks Bahasa Inggris / 18+
Perjalanan menembus waktu, gambar diam, masa lalu, sekarang, dan masa depan, dan pasca Perang Dunia III. Kisah seorang pria, budak, yang dikirim bolak-balik, masuk dan keluar dari waktu, untuk mencari solusi atas nasib dunia. Untuk mencukupi persediaan makanan, obat, dan energi, dan dengan, sehingga menghasilkan sebuah memori abadi tentang perempuan tunggal, hidup, kematian, dan masa lalu yang dibuat ulang pada sebuah bandara Jetée.
----
Vase de Noces (Wedding Trough)
Thierry Zéno
Negara Belgia / Tahun 1974 / Durasi 80 menit / 21+
Seorang petani gila jatuh cinta dengan babi dan kemudian memiliki anak babi mutan dengannya. Ketika sang anak babi lebih memilih ibu mereka daripada dirinya, ia menggantung mereka semua dan sang ibu membunuh dirinya sendiri.
---
Sayat Nova: The Color of Pomegranates
Sergei Parajanov
Negara Armenia / Tahun 1968 / Durasi 79 menit / Subteks Bahasa Inggris / 18+
Biografi dari penyair-musisi Armenia, Sayat Nova, yang mengungkap kehidupan si penyair lebih melalui puisinya daripada narasi konvensional tentang peristiwa penting dalam hidup Sayat Nova. Kita melihat sang penyair tumbuh, jatuh cinta, masuk biara, dan mati, dalam konteks imajinasi Sergei Parajanov dan puisi Sayat Nova, puisi-puisi yang jarang dilihat dan didengar.
SINEMA DUNIA
DVD Untuk Semua
Senin Sinema Dunia (SSD) adalah program menonton sinema-sinema pilihan dari seluruh dunia dengan subteks ber-Bahasa Indonesia yang diterjemahkan dan ditayangkan oleh Forum Lenteng tiap Senin malam. Film-film ini merupakan hasil dari program penerjemahan alih bahasa film berbahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia, DVD Untuk Semua sejak 2010. Film-film terpilih merupakan karya yang berpengaruh dalam perkembangan sejarah sinema dunia, program penerjemahan ini adalah sebuah usaha untuk mempermudah akses informasi kepada publik. Dengan tim penerjemah khusus dari Forum Lenteng di bawah koordinasi Divisi Penelitian dan Pengembangan Forum Lenteng, film-film ini diseleksi dan disunting secara ketat untuk menjaga kesinambungan cerita ataupun alur tiap film. Saat ini, Forum Lenteng bekerjasama dengan kineforum membuat program pemutaran karya-karya sutradara dunia ini di kineforum, dalam beberapa edisi.
Selamat menonton!
- -
Edisi #1
Jejaring Estetika: Evolusi Teknik Pengisahan
Programmer: Forum Lenteng
Jalur kebudayaan, selamanya akan menjadi sesuatu yang otentik. Semenjak sejarah pengetahuan yang di mulai di Athena pada kala 5 SM, melintas Italia (Elea) hingga Prancis (Massilia), kemudian India kala Alexander Agung. Jalur kebudayaan ini pun masih bisa kita lihat pada ke-18, ketika gaya Rococo Italia yang terilhami oleh Rococo di Prancis. Hingga kemudian pada abad ke-20, kelahiran Neorealisme film di Italia pun, juga tidak lepas dari kontak kebudayaan yang membentuk jejaring estetika di antara ketiga entitas tersebut; Prancis, Italia dan India.
Adalah Luchino Visconti (1906-1976), Vittorio de Sica (1902-1974), dan Satyajit Ray (1921-1992), merupakan para sutradara yang bisa dianggap berasal dari jejaring estetika yang bermula pada sutradara Prancis Jean Renoir. Visconti dan De Sica sendiri, merupakan dua sutradara yang mempelopori Neorealisme Italia pasca Perang Dunia II. Melalui Visconti lah, gaya “realisme puitis” Renoir (Toni, 1935) berjejaring, sehingga karyanya yang berjudul Ossessione (1943), mengilhami gerakan Neorealisme Italia pasca Perang Dunia II. Sampai kemudian karya-karya Neorealisme Italia tersebut berpuncak pada karya Vittorio de Sica,Ladri di Biciclette (Bicycle Thieves) (1948).
Satyajit Ray sendiri, adalah seorang sutradara asal India yang mengalami perjumpaan dengan Jean Renoir pada tahun 1949 di India, ketika Ray membantu Renoir dalam proses pembuatan The River (1951). Di kemudian hari, Satyajit Ray mengatakan pada Renoir bahwa ia terilhami Bicycle Thieves dalam membuat karya adi nya, Pather Panchali (1955).
Jalur-jalur kebudayaan, selamanya memang tidak terhindarkan dan membentuk jejaring estetika. Pasca kelahiran teknologi suara pada film di 1927, banyak membawa film kepada arah “gaya realisme”, setelah kejayaan “gaya montase” Rusia di kala film bisu. “Realisme puitis” (poetic realism), pada kala 1930an, yang satu di antaranya dipelopori oleh Jean Renoir, membawa evolusi pada teknik pengisahan film di kala film bersuara. Gaya realisme film, membawa bidang seni ketujuh ini, lebih dekat dengan roman, sehingga capaian-capaian gaya realisme berpuncak pada periode film Neorealisme Italia. Pada program Sinema Duniaoleh Forum Lenteng di kineforum bulan Mei ini, karya-karya yang terpilih, cukup menarik untuk melacak jejaring estetika sinema, khususnya perihal sejarah “gaya realisme” film di dunia.
----
Penyemir Sepatu (Sciuscià/Shoeshine)
Vittorio de Sica
Negara Italia / Tahun 1946 / Durasi 93 menit / SU
Di sebuah trek berkuda dekat kota Roma, Bocah-bocah penyemir sepatu sedang menonton kuda-kuda berpacu. Dua bocah, Pasquale, anak yatim piatu, dan Giuseppe, kawannya yang lebih muda yang sedang menunggang kuda. Dua kawan ini sedang menabung untuk membeli seekor kuda pribadi. Bocah-bocah itu menemui Attilio, kakak tertua Giuseppe, dan kawan karibnya di sebuah perahu di sungai Tiber. Dengan imbalan komisi, bocah-bocah ini setuju untuk mengantar barang-barang pasar gelap kepada seorang peramal. Setelah sang perempuan peramal membayar, geng Attilio tiba-tiba datang. Berpura-pura menjadi polisi, mereka menangkap wanita itu. Dengan bayaran dari Attilio, dua kawan ini akhirnya mampu melunasi bayaran dan mengandangkan kudanya di Trastvere dekat sungai. Sang peramal mengidentifikasi Pasquale dan Giuseppe. Masuk penjara anak laki-laki penuh sesak, mereka terpisah. Giuseppe dibawah pengaruh kawan yang lebih tua di selnya, Arcangeli. Selama masa interogasi, Pasqualle tertipu untuk mengkhianati kakak Giuseppe dan mengadukannya kepada polisi. Dengan masa percobaan mereka yang tak diketahui sampai kapan, anak-anak ini terdorong lebih jauh ke dalam permaslahan.
Penyemir Sepatuadalah satu di antara film awal dari gerakan Neorealisme Italia. Di tahun 1948, mendapatkan Honorary Award di Academy Awards yang merupakan pelopor dari apa yang nanti akan menjadi Academy Awards for Best Foreign Language Film. Film ini adalah sekuel pertama dari trilogi karya Vittorio de Sica yang membicarakan persoalan represi tiga generasi Italia pasca Perang Dunia II. Setelah filem ini, Vittorio de Sica membuat Pencuri Sepeda (Ladri di Biciclette) yang membicarakan hubungan antar generasi ketiga (anak-anak) dengan generasi kedua (Ricci), sedang Umberto D membicarakan hubungan generasi kedua dengan generasi pertama. Tiga karya ini merupakan kunci dari perkembangan gerakan Neorealisme Italia karya Cessare Zavattini (penulis skenario di hampir semua karya-karya Neorealisme).
----
Hasrat Nafsu (Ossessione/Obsession)
Luchino Visconti
Negara Italia / Tahun 1943 / Durasi 140 menit / 15+
Hasrat Nafsu (1943) diangkat dari novel The Postman Always Rings Twice, oleh James M. Cain. Cerita tentang seorang gelandangan Gino (Massimo Girotti), yang melakukan affair dengan istri pemilik restoran, Giovanna (Clara Calamai). Lalu keduanya berkomplot untuk membunuh suaminya dan berusaha untuk hidup bahagia selamanya. Hasrat Nafsu adalah filem pertama Visconti, dan dianggap banyak kritisi merupakan filem pertama Neorealisme Italia. Film ini merupakan biang atau pemicu dari filem gerakan Neorealisme Italia. Dikultus sebagai filem pertama yang menggunakan kaidah Neorealisme Italia. Filem yang lahir menjelang Perang Dunia II ini telah menginspirasi Roberto Rosselini, Vittorio de Sica, Alberto Lattuda, dan Federico Fellini, dalam membuat sinema berkualitas dengan biaya terjangkau dan menyangkut persoalan sosial-politik yang terjadi di masyarakat Italia sebelum, saat, dan usai Perang Dunia II.
----
Kidung Lelangkah (Pather Panchali/Song of the Little Road)
Satyajit Ray
Negara India / Tahun 1955 / Durasi 91 menit / SU
Apu lahir di desa kecil Nichindipur. Hidup bersama orangtua dan kakak perempuan yang di sayanginya, Durga. Apu dan Durga selalu berpetualang sesanggup kaki melangkah untuk menemukan hal-hal baru. Suatu ketika Apu bersama Durga bermain di padang alang-alang dan untuk pertama kalinya Apu melihat tiang listrik dan lokomotif. Setelah pertemuannya itu, Bibi Indir meninggal dunia. Disusul kemudian Durga, yang selama hidupnya mengagumi kereta api. Filem ini merupakan seri pertama dari Trilogy of Apu yang diproduksi rentang 1955-1959.
Terdapat tiga tokoh dalam gerakan realisme India sebagai upaya memberikan pilihan tontonan masyarakat India selain Bollywood, Ritwik Ghatak, Mrinal Sen, dan Satyajit Ray. Filem ini merupakan karya pertama dari Satyajit Ray dalam mengeksplorasi bahasa sinema melalui tradisi keintelektualan India. Film yang diadaptasi dari novel besar Bengali, Pather Panchali karya Bibhutibhushan Bandopadhyay ini telah memberikan inspirasi yang berbeda dalam hal pengadaptasian karya sastra ke dalam bahasa sinema. Bagaimana sebuah teks diinterpretasi ke dalam bentuk gambar dan suara. Bagaimana filem mempunyai bahasa tersendiri yang tak bisa diungkapkan oleh teks. Filem pertama dari tiga serinya ini justru mengisi dan memperbaharui karya sastra yang berjumlah dua edisi itu. Melalui filem inilah, kisah Apu menjadi terkenal ke seluruh dunia.
Satyajit Ray lahir di Kolkata pada 2 Mei 1921 dan meninggal pada 23 April 1992. Ia seorang pelopor realisme India bersama Ritwik Ghatak dan Mrinal Sen. Sebelumnya ia pernah bermain filem, namun memutuskan untuk memproduksi sendiri setelah mendapat kepercayaan usai menonton Pencuri Sepeda-nya Vittorio De Sica. Selama rentang hidupnya, Ray telah membuat 37 filem. Ia pernah bersitegang dengan Francois Truffaut lantaran memperlihatkan adegan-adegan makan yang menggunakan tangan. Menurut Truffaut, adegan seperti itu tidak layak diperlihatkan dalam sinema yang “optimis” tetapi bagi Ray, adegan makan dengan tangan adalah khas asia.
----
Pencuri Sepeda (Ladri di biciclette/Bicycle Thieves)
Vittorio De Sica
Negara Italia / Tahun 1948 / Durasi 93 menit / SU
Ricci (Lamberto Maggiorani) baru saja memperoleh kerja sebagai penempel poster. Ia lalu menebus Fides-nya (sepeda) yang telah tergadai. Namun kemalangan menimpanya. Sepeda yang menjadi syarat mutlak untuk pekerjaaan itu dicuri. Dimulailah perjuangan Riccci bersama Bruno (Enzo Staiola), anaknya, menelusuri kota Roma mencari sepeda yang tercuri. Petualangan yang membawa kita kepada struktur kehidupan masyarakat Italia pasca Perang Dunia Kedua.
Tak disangkal lagi kalau gerakan Neorealisme Italia telah menginspirasi munculnya gerakan-gerakan sinema di dunianya. Konsep produksi berbiaya murah melalui pemilihan pemain non-profesional, latar di luar lapangan atau tidak di dalam studio, memanfaatkan kehidupan sehari-hari masyarakat sehingga tak perlu menyewa figuran, dan bahasa estetika yang memaksimalkan pengadeganan dan konsep pemberitaan, telah memicu lahirnya kepercayaan diri membuat film bagi sutradara-sutradara besar Asia seperti Satyajit Ray dan realisme India serta sutradara-sutradara Indonesia. Filem drama ini juga ringan, sederhana untuk dinikmati, dan menjadi pilihan tontonan bagi masyarakat.







