"Lewat Djam Malam" karya Usmar Ismail Dapat Dinikmati Publik

"Lewat Djam Malam" karya Usmar Ismail Dapat Dinikmati Publik

JAKARTA —  Kabar membanggakan kembali datang dari dunia perfilman Tanah Air. Film klasik 'Lewat Djam Malam' arahan sutradara Usmar Ismail telah diputar di Cannes Film Festival pada 17 Mei lalu.

Menurut Alex Sihar  dari Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, yang juga Ketua Yayasan Konfiden, pemutaran 'Lewat Djam Malam' di Cannes Film Festival bermula dari ketertarikan World Cinema Foundation (WCF) untuk mengedarkan film tersebut ke seluruh dunia. WCF adalah yayasan milik sutradara Martin Scorsese.

"Ini pertama kali film Indonesia di Cannes klasik," ujar Alex saat jumpa pers di PPHUI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (4/6/2012).

Menurut Alex, banyak pengunjung yang antusias menonton 'Lewat Djam Malam'. Bahkan ada salah seorang penyelenggara festival film internasional tersebut yang bilang kepadanya, "Tidak pernah film klasik yang ditonton dengan banyak orang seperti ini."

Film 'Lewat Djam Malam' baru saja direstorasi atas kerjasama sejumlah pihak antara lain, National Museum of Singapore, Yayasan Konfiden, Yayasan Sinematek, Kineforum-Dewan Kesenian Jakarta, dan WCF.

'Lewat Djam Malam' menceritakan kisah ketika Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda. Pada masa itu, tentara masih berusaha menguasai keadaan dan menyelenggarakan jam malam di Kota Bandung.

Alex Sihar, dalam jumpa pers di Pusat Perfilman H Usmar Ismail mengatakan, restorasi film Lewat Djam Malam diharapkan bisa membuka mata para pemangku kepentingan di Indonesia tentang pentingnya arsip film bagi kehidupan sejarah bangsa.

Rencananya, 'Lewat Djam Malam' akan dirilis di bioskop pada 21 Juni mendatang di beberapa kota di Indonesia, seperti Makassar, Surabaya, Bandung, dan Jabodetabek. Setelah melalui proses restorasi selama 1,5 tahun di Italia, film Lewat Djam Malam karya sineas Usmar Ismail (1954) akhirnya bisa dinikmati publik di negeri sendiri.

Pemutaran film Lewat Djam Malam ini merupakan upaya para pencinta film untuk menarik minat publik terhadap pelestarian artefak film yang tersimpan di Pusat Informasi dan Dokumentasi Film (Sinematek) Indonesia.

Restorasi film Lewat Djam Malam ini dibiayai National Museum of Singapura (NMS) dan World Cinema Foundation yang didirikan sineas dunia Martin Scorsese. Sebelum diputar di Indonesia, film Lewat Djam Malam lebih dulu diputar di Festival Film Cannes, 17 Mei lalu. Film tersebut terpilih dalam kategori World Classic Cinema.

Proses restorasi dimulai sekitar tahun 2010. Pihak NMS memercayakan penggarapan restorasi film kepada L'Immagine Ritrovata yang fokus pada restorasi film di Bologna, Italia.

Untuk membiayai proses restorasi tersebut, NMS mengeluarkan biaya mencapai 200.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 1,4 miliar. Belakangan, World Cinema Foundation, yaitu lembaga yang juga fokus pada pelestarian film dunia, menyumbang sekitar 50.000 euro atau sekitar Rp 700 juta. Restorasi film ini melibatkan Kineforum, Konfiden, dan Sinematek Indonesia.

Teledor

Kritikus film, Totot Indarto, mengatakan, restorasi film yang dilakukan pihak asing ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang teledor terhadap kearsipan film yang merekam jejak kebudayaan bangsa.

 "Proyek restorasi ini sebuah pekerjaan yang mempermalukan kita, orang asing yang mau mempekerjakan ini," sesal Sahabat Sinematek Totot Indarto.

"Tanpa arsip, kita akan melahirkan generasi yang tidak punya pijakan sejarah. Jangan-jangan kebudayaan kita nantinya akan menjadi budaya baru tanpa konteks," kata Totot.

Pemilihan film Lewat Djam Malam ini direkomendasikan oleh JB Kristanto, mantan wartawan dan penulis buku katalog film Indonesia. Menurut Kristanto, Lewat Djam Malam merupakan film Usmar Ismail yang kuat konteks sejarahnya. Di film itu digambarkan bagaimana perebutan klaim antara TNI dan pihak sipil atas siapa yang paling berperan dalam keberhasilan kemerdekaan Indonesia.

"Usmar Ismail adalah orang pertama yang menganggap film sebagai ekspresi pribadi. Sebelumnya dan bahkan sampai sekarang, banyak film yang dicampurtangani produser film sebagai pemilik modal," kata Kristanto.

(dari berbagai sumber)