Program Kineforum Juni 2012 Mengusung Genre Horor

Program Kineforum Juni 2012 Mengusung Genre Horor

 PROGRAM PEMUTARAN KINEFORUM JUNI 2012

Awal bulan Juni, kineforum kembali berbagi referensi, menyusupi ruang-ruang multidimensi, Fiksi dan Realisme menghantarkan kita pada sebuah esensi di mana Sinema diciptakan untuk sebuah perubahan.

Bulan ini kami menyajikan kembali program Kinefilia yang disusun oleh Mohamad Ariansah dengan mengangkat tema “Horror, The Uncanny dan Politik Suara”. Menampilkan film-film horor pada periode munculnya film bersuara di tahun 30an, menambah dimensi ekstra dalam menciptakan reaksi emosional, dimana musik dibangun untuk menambah ketegangan atau sinyal adanya ancaman.

Sebagai sebuah genre, film horor memiliki ciri khas tersendiri yang menimbulkan reaksi emosional dengan bermain di tengah kekhawatiran penonton yang paling mendasar. Gaya bercerita film horor bermain dengan psikologis seseorang dimana sesuatu terasa begitu akrab tetapi begitu asing pada saat yang bersamaan, sehingga timbul perasaan menjadi tidak nyaman atau aneh. Dalam memahami suatu yang supranatural terkadang kita lebih suka menolak daripada merasionalisasi. Namun, sebagai dimensi gambaran mimpi, secara sadar maupun tidak, manusia menyukai sesuatu yang irasional. Dikemas dengan diskusi bertema sama, kami mengajak anda untuk mengambil bagian dalam permainan sensasi dalam “Horror, The Uncanny dan Politik Suara” dalam film Frankenstein, Dracula, dan Freaks.

“Di Penghujung Neorealisme Italia”, menjadi tema yang diangkat kali ini sebagai program lanjutan dari Sinema Dunia di bulan lalu yang bekerjasama dengan DVD Untuk Semua oleh Forum Lenteng. Tidak hanya pemutaran film, bulan ini program DVD Untuk Semua disertai diskusi mengenai Neorealisme Italia yang akan dipandu oleh Akbar Yumni, redaktur www.jurnalfootage.net.

Kita sampai pada penghujung Neorealisme Italia, yang masih menampilkan kondisi sosial pasca perang dunia ke-2, dimana pada masa itu dibutuhkan sebuah realisme baru sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Setelah kondisi politik dan negara tersebut mulai pulih pemerintah Italia melihat film sebagai media yang terus berkembang sebagai kritik terhadap pemerintah di era masyarakat sosial kontemporer. Setelah 1949, negara mulai membatasi gerakan Neorealisme melalui sistem sensor dan memunculkan produksi film skala besar. Tahun 1950an menjadi penghujung bagi perjalanan Neorealisme di Italia. Film-film yang kami sajikan adalah Riso Amaro, La Strada, Le Notti di Cabiria, dan Umberto D.

Forum Lenteng dalam program akumassa bekerjasama dengan Komunitas Djuanda – Ciputat memproduksi film dokumenter terbaru, Naga yang Berjalan di Atas Air (2012). Mengangkat isu sosio-kultural Tionghoa, yang telah kerap kali dibahas, tetapi film ini menawarkan fakta baru tentang realita masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Merupakan cerita kecil dari perbatasan kota Tangerang dan Kabupaten Bogor, Kang Sui Liong, sang penjaga kuil yang hidup dan tinggal bersama keluarganya. Ia menjadi saksi kejayaan kaum Cina Benteng yang hidup dari hilir di Tangerang ke hulu di Bogor. Cerita tentang keberlanjutan tradisi leluhur yang di bawa olehnya, dan terus ke anak-cucunya.

Sebuah harmonisasi akulturasi oleh masyarakat Betawi dengan Tionghoa juga terpaparkan dalam Anak Naga Beranak Naga (2006), yang menghantarkan kita menerobos ruang ruang pembatas etnis maupun waktu. Tentang Gambang Kromong, sebuah musik akulturatif berbagai etnis di Indonesia yang cikal bakalnya telah dirintis lebih dari dua abad lalu. Berdasarkan kompleksitas musik Gambang Kromong, film ini adalah sebuah catatan tentang musik dan budaya yang terpinggirkan.

Seperti pada bulan-bulan sebelumnya, ruang diskusi Filmmaker’s Forum tetap menawarkan suatu yang berbeda, diskusi mengenai teknis pembuatan film terutama teknis visual. Di bulan ini Filmmakers Forum akan membahas visual dalam film Realita, Cinta dan Rock’n Roll (2005) bersama Agung Dewantoro (Penata Kamera) dan Suherina Nimpuno (Penata Artistik).

Selamat menonton dan berdiskusi!

Salam,

Sugar Nadia Azier
Manajer kineforum