Selamat Jalan Misbach Yusa Biran, Pelopor Arsip Film Indonesia
Tokoh perfilman Indonesia, Misbach Yusa Biran telah meninggal dunia, Rabu (11/4) pukul 07.12 WIB. Beliau meninggal di Eka Hospital, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten.
Almarhum meninggalkan seorang istri yang juga aktris, Nani Widjaya, yang dinikahinya pada tahun 1969. Dari pasangan ini lahir enam orang anak. Dua anak di antaranya mengikuti jejak mereka di dunia film, yaitu Cahya Kamila dan Sukma Ayu (telah wafat beberapa tahun lalu).
Misbach Yusa Biran dan Perfilman Indonesia
Misbach lahir di Rangkasbitung, Lebak, Banten, 22 September 1933. Beliau merupakan sutradara film, penulis skenario film, drama, cerpen, kolumnis, dan sastrawan Indonesia, serta pelopor arsip film Indonesia.
Misbach menempuh masa studi di SLTA Taman Siswa. Mulai menyutradarai sandiwara ketika masih duduk di bangku SLA, (awal tahuri 1950-an) disamping juga menulis resensi film, dan karyasastra. Tahun 1954-1956 masuk perusahaan PERFINI pimpinan Usmar Ismail, dimulai sebagai Pencatat Skrip, kemudian menjadi Ass. Sutradara dan anggota Sidang Pengarang. Tahun 1955 menulis skenario pertama dari cerpen Sjumandjaja Keroncong Kemayoran yang dijadikan film oleh PERSARI dengan judul Saodah. Berlatih melalui pembuatan film-film pendek dan dokumenter, tahun 1960 mulai menyutradarai film cerita pertamanya, Pesta Musik LaBana.
Karir film digelutinya sambil tetap juga aktif sebagai wartawan dan menulis cerpen. Di dunia jurnalis, ia pernah menjadi Ketua Redaksi Minggu Abadi (1958-1960), Majalah Purnama (1962-1963), Redaktur Ahad Muslimin dan menjadi redaksi Lembaran Kebudayaan dari harian Duta Masyarakat (1964-1965).
Naskah sandiwara Bung Besar (1957), memenangkan sayembara Jawaian Kebudayaan. Naskah ini diserang habis-habisan oleh penerbitan, Bintang Timur, sekitar 1964-1965, dan resmi dilarang pentas oleh Pemerintah pada tahun 1965. Pernah menulis beberapa sajak dan banyak cerpen. Sketsa-sketsanya yang berlatar belakang politik dalam bentuk satire di Mingguan Abadi dengan judul tetap "Komedi Klasik Modern" (1958-1960) banyak digemari pembaca karena kritik-kritiknya yang berani. Pada tahun I960 sketsa Seni dihentikan atas permintaan Penguasa Militer waktu itu. Sketsa-sketsanya yang mengambit model kehidupan Seniman Senen (1958-1961), sebagian dibukukan pada tahun 1972 dengan judul "Keajaiban di Pasar Senen" dan "... Oh. Film" diterbitkan ulang tahun 1997.
Antara tahun 1960-1965 bekerjasama dengan Wim Umboh untuk menulis semua skenario Wim masa itu juga sebagai co-sutradara. Antara lain Istana Jang Hilang (1960), Bintang Ketjil (1963), Apa Jang Kau Tangisi (1964), Matjan Kemajoran (1965). Sesudah itu juga masih menulis untuk Wim, skenario Dan Bunga-Bunga Berguguran (1970) dan Mama (1972). Film yang ditulis skenario dan disutradarainya sendiri Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966) mendapatkan penghargaan untuk cerita dan penyutradaraan dari Pekan Apresiasi Film Nasional 1967 (semacam festival, karena saat itu tidak ada FFI). Sejak menyutradarai film Honey, Money and Jakarta Fair (1970), ia memutuskan berhenti menyutradarai karena film masa itu diwarnai oleh bumbu seks. Selanjutnya dunia pembuatan film digelutinya sebatas menulis skenario saja. Kegiatan lain di bidang film adalah mengkonsepkan berdirinya IKFT (Ikatan Karyawan Film dan Televisi} ccrmasuk menulis konscp Anggaran Dasarnya pada tahun 1964. Tahun 1972-1975 ia menjadi ketua I organisasi tersebut. Dan pernah tiga kali menjadi Ketua Umumnya, yakni periode tahun 1978-1981,1981-1984, dan 1987-1991.
Antara 1969-1991 ia menjadi anggota Dewan Film Nasional. Tahun 1970 ikut merancang berdirinya Akademi Sinematografi yang kini menjadi Jurusan Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Ia mengajar di sana dari tahun 1971-1995 memberikan mata kuliah Sejarah Film Indonesia dan Penulisan Skenario film. Tahun 1978 merancang berdirinya badan khusus yang menyelenggarakan pendidikan bagi para pelaku film, yang kemudian dikenal sebagai Yayasan Citra. Di sana ia menjadi pengurus, dan sekian lama menjadi Ketua Umumnya sekaligus pengajar.
Tahun 1971 merintis berdirinya Arsip Film, yang sejak tahun 1975 menjadi Sinematek Indonesia, yang terus dipimpinnya. Untuk bidang arsip ia menerima penghargaan "Lifetime Achievement" dari SEAPAVAA (South East Asia and Pacific Film and Audio-Visual Archive Association), sebagai perintis di bidang arsip film di AsiaTenggara. Di FFI, banyak kali menjadi anggota Komite Seleksi, dan beberapa kali menjadi anggota Dewan Juri. Banyak kali menjadi juri dari penulisan Pers mengenai film.
Kegiatan lain di bidang kesenian adalah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta, sejak berdirinya pada tahun 1968 sampai tahun 1981. Ia pun menggantikan posisi Ramadhan KH yang telah mangkat di Akademi Jakarta. Menjadi Direktur Pelaksana DKJ tahun 1980-1981, menjadi Wk. Direktur Tim Bidang Artistik tahun 1973-1975. Sebagai pimpinan Arsip film dan pengajar Film, pernah diundang untuk meninjau arsip dan sekolah film di banyak negara, termasuk keliling Amerika dan Jepang. Ia pun ikut menyiapkan rekomendasi UNESCO mengenai Arsip Film dalam pertemuan di Argentina (1978) dan Paris (1989). Penghargaan-penghargaan yang pernah diterimanya adalah: "Hadiah Usmar Ismail" (1985), hadiah tertinggi Dewan Film Nasional, "Hadi Seni" (1993) dari Depdikbud.
Filmografi: Menjusuri Djedjak Berdarah (1967), Samiun dan Dasima (1970), Bandung Lautan Api (1974), Krakatau (1977), Fatahillah (1997). Sedangkan yang menghasilkan nominasi Citra untuk skenario adalah Karena Dia (FFI 1980} dan Ayahku (FFI 1988).
Sinetron: Bengkel Bangjun (1995, 6 episode), Keajaiban Hati (1996, 6 episode), serial Fatahillah (1997, 13 episode), Dramatisasi Hadits Nuansa Ramadhan (1996-1997, 70 adegan), serial Balada Dangdut (1997, 11 episode), serial Jeram-Jeram Kehidupan (1997, 16 episode).






