DJAKARTA ARTMOSPHERE Mengantarkan Warga Jakarta Menuju Perhelatan Seni Rupa Kontemporer Internasional

DJAKARTA ARTMOSPHERE Mengantarkan Warga Jakarta Menuju Perhelatan Seni Rupa Kontemporer Internasional

 

Jakarta- Menyambut penghujung bulan Oktober 2011, Djakarta Artmosphere digelar kembali untuk ketiga kalinya. Tahun ini, gegap gempita penyelenggaraan konser dua generasi ini akan berlangsung pada 22 Oktober 2011 di Tennis Indoor Senayan yang akan dimeriahkan oleh berbagai musisi kondang Indonesia.
 
Di satu sisi, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Djakarta Artmosphere akan kembali mengusung tema yang sama; kolaborasi dua generasi yang akan menampilkan kepiawaiannya masing-masing pada satu panggung.
 
Berbicara mengenai generasi senior, dunia musik Indonesia sudah sangat akrab dengan Koes Plus, band yang telah menghasilkan puluhan rilisan selama lebih dari 50 tahun berkarya di industry music tidak bisa dipandang sebelah mata.
 
Maka di Djakarta Artmosphere tahun ini, Koes Plus akan beradu aksi dengan eksponen rock ugal-ugalan asal Jakarta, BRNDLS (The Brandals). Band ini berhasil keluar dari zona lama mereka yang menemukan sebuah pendekatan eksplorasi seni yang luar biasa luas lewat album terbaru mereka.
 
Tak hanya kedua band papan atas tersebut yang akan berkolaborasi, Pure Saturday, legenda indiepop lokal asal Bandung juga dijadwalkan untuk berbagi panggung dengan Jockie Suryoprayogo. Ada pun perpaduan Endah ‘N Rhesa bersama Margie Segers yang akan menyihir penonton dengan keluwesan
permainan mereka dari sekat-sekat panggung yang mereka kuasai.
 
Nama terakhir yang akan mengisi panggung Djakarta Artmosphere tahun ini adalah penampilan Keenan Nasution, musisi yang mencapai era keemasannya di dekade 70-80an, akan melebur bersama dengan fenomena baru bernama Sarasvati.
 
Beberapa kelompok pun juga turut memeriahkan panggung outdoor yang terletak di luar lokasi pertunjukkan utama, yang disebut Joyland. Mereka adalah White Shoes and the Couples Company , Luky Annash, Sir Dandy, Dialog Dini Hari, dan The Experience Brother.
 
Kembali bekerjasama dengan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Djakarta Artmosphere menjaring bakat-bakat muda yang memberikan opini mereka mengenai music Indonesia dalam bentuk provokasi visual. Para peserta yang sebelumnya telah menjalani workshop mengenai pembekalan materi fotografi dan wawasan music Indonesia akan berpameran selama konser berlangsung.
 
Walaupun kemasan dan konsep Djakarta Artmosphere terkesan tidak berubah, namun dapat dipastikan bahwa ia mengalami penyegaran. Tahun ini Djakarta Artmosphere turut serta memeriahkan perjalanan menuju Perhelatan Akbar Seni Rupa Kontemporer Internasional  yang bertajuk, JAKARTA BIENNALE #14.2011 “Maximum City”. Acara dua tahunan tersebut digawangi oleh Dewan Kesenian Jakarta yang akan resmi dibuka pada 15 Desember 2011 di Galeri Nasional.
 
Tentang Jakarta Biennale
 
Jakarta Biennale merupakan perhelatan seni rupa berskala internasional. Pesta seni akbar ini digelar setiap dua tahun, dan telah berlangsung sejak 1968 diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. 
 
Kali ini Jakarta Biennale#14.2011 mengusung tema “Maximum City: Survive or Escape”. Tema itu merespon fenomena Jakarta yang meski telah bertumbuh melebihi daya dukungnya, namun tetap menarik untuk dihuni. Selalu muncul ide dan kreatifitas baru dalam menyiasati Jakarta: Maximum City. 
Pada perhelatan kali ini, kurator mengundang lebih dari 200 seniman baik lokal, maupun internasional untuk ikut berpartisipasi. Selain galeri dan ruang-ruang indoor, karya-karya seni rupa raksasa akan dipamerkan di berbagai ruang publik seperti taman kota, jalan raya, mal, stasiun dan sebagainya.   
 
Informasi lebih lanjut silakan hubungi:
Lintang 0821-22285000
Juga follow kami di @Djaksphere dan @jakartabiennale