Membingkai Revolusi Indonesia

Membingkai Revolusi Indonesia

"Freedom is the glory of any nation. Indonesia for Indonesians!"

Indonesia pada 1946. Bunyi slogan itu demikian gagah dan penuh kebanggaan. Setidaknya sebuah pengakuan atas identitas Indonesia di antara bangsa-bangsa lain, ketika kemerdekaan baru saja digenggam dengan segala perjuangan. Begitu haru, begitu antusias.

Slogan yang terpampang di sebuah tembok bangunan itu terbidik dalam sebuah foto lawas karya Cas Oorthuys. Beberapa inlander melenggang melewati gedung itu. Koleksi Nederlands Fotomuseum, Rotterdam, ini memang tanpa judul, tapi cukup bercerita tentang sebuah bangsa yang baru lahir, yang mulai memperlihatkan identitasnya.

Potret Indonesia pascaproklamasi terbidik kamera beberapa jurnalis foto pada masa itu. Dan saat ini, foto-foto lawas tersebut dipamerkan di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, hingga 23 Agustus mendatang. "Ini adalah identitas kita. Bisa hilang kalau tak ada keberlanjutan," kata Firman Ichsan dari Dewan Kesenian Jakarta.

Pameran bertajuk Identitas untuk Semua itu juga menghadirkan foto-foto hasil jepretan fotografer dalam negeri: Frans Soemarto Mendur dan Alexius Mendur. Menarik membahas karya fotografer dalam pameran ini. Mendur bersaudara, misalnya, meski byline foto-foto mereka hanya membubuhkan nama Ipphos (Indonesia Press Photo Service). Ipphos didirikan oleh beberapa fotografer, termasuk Mendur bersaudara, untuk memfasilitasi berita foto beberapa media saat itu.

Mereka banyak mengabadikan foto-foto berbasis massa. Mereka membidik bagaimana Soekarno dan Hatta mulai memimpin pascaproklamasi, berkunjung ke daerah satu dan lainnya, lalu berpidato di depan ribuan orang membakar semangat kemerdekaan, hingga kegiatan religius para pemimpin bangsa. Pada satu foto terlihat Jenderal Soedirman berdampingan dengan Soekarno, Moh. Ichsan (Sekretaris Negara II), Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan Supardjo Rustam (ajudan Jenderal Soedirman) ketika salat Idul Fitri.

Mereka jugalah yang mengabadikan foto proklamasi kemerdekaan. Ada hal menarik dalam proses pembuatan foto proklamasi itu, seperti dituturkan sejarawan dan peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam. Menurut Asvi, pelat film foto proklamasi itu tidak ditemukan lagi. Saat itu Alexius Mendur menjadi kepala desk foto kantor berita Jepang, Domei. Adapun Frans Soemarto Mendur bekerja untuk surat kabar Asia Raya.

Menjelang proklamasi, satu-satunya surat kabar yang diperbolehkan terbit oleh Jepang adalah Asia Raya. Peristiwa yang amat penting itu hanya diberitakan secara singkat pada edisi 18 Agustus 1945, tanpa ada foto. Tentu, Jepang melakukan sensor. Frans, yang masih menyimpan pelat film peristiwa itu, kemudian menyembunyikannya di dalam tanah di bawah pohon halaman belakang kantor Asia Raya. Semua itu dilakukan Frans untuk menghindari penggeledahan.

Namun foto-foto itu kemudian dapat dimuat pada 17 Februari 1946 di harian Merdeka. Harian ini membuat edisi khusus enam bulan pemerintahan Indonesia pascaproklamasi dengan judul "Soeasana Sekitar Proklamasi Kemerdekaan di Pegangsaan Timoer". "Mendur bersaudara bergabung dengan harian Merdeka setelah kekalahan Jepang," ujar kurator pameran, Oscar Motuloh.

Lain lagi dengan karya-karya Cas Oorthuys. Meski berasal dari Belanda, ia justru berpihak pada kemerdekaan Indonesia. Cas berangkat ke Indonesia pada 1947 dengan misi mengkampanyekan penyelesaian damai proses kemerdekaan Indonesia. Ia berada di Indonesia selama dua bulan.

Cas banyak membidik kehidupan rakyat kecil di luar ingar-bingar kemerdekaan yang baru saja diperoleh. Misalnya, foto penduduk yang tengah antre pangan. Masyarakat pada waktu itu tidak mau mengkonsumsi beras yang diberikan Belanda atau Inggris. Mereka lebih memilih beras dari negeri sendiri. Pemerintah Belanda pada akhirnya terpaksa bernegosiasi untuk menerima pasokan beras dari daerah yang dikuasai Republik.

Sepulang dari Indonesia, foto-foto itu kemudian dibuat buku dengan judul Een Staat in Wording (A State in the Making). "Cas berideologi sosialis. Dia banyak membidik rakyat kecil," kata Oscar.

Toh, karya Cas cukup memberikan warna bagi keadaan Indonesia pada saat itu. Ternyata tak semua masyarakat larut dalam euforia kemerdekaan. "Tak semua orang larut dalam revolusi itu," ujar Firman Ichsan. Cermati saja, ekspresi dan gestur tubuh yang terekam kamera memperlihatkan kebanggaan mereka menjadi bangsa yang merdeka. Mereka berkacak pinggang, menatap tegap, tak lagi menunduk.

Baik Cas maupun Mendur bersaudara adalah fotografer yang memang berpihak pada kemerdekaan Indonesia. Melalui kamera, karya mereka tak hanya merupakan saksi sejarah, tapi bukti atas peristiwa penting di republik ini. ISMI WAHID

Tak Selalu Apa Adanya


Siapa sangka, di antara foto-foto yang selama ini kita anggap sebagai bukti sejarah, ada beberapa yang memang diatur sebelum proses pemotretan dilakukan. Tidak berlangsung begitu saja seperti yang kita kira selama ini.

Dalam sebuah forum diskusi mengenai "Fotografi dan Nasionalisme" di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan pengaturan kecil supaya tampak bagus dalam foto bisa saja terjadi.

Ia mencontohkan adegan Bung Karno merangkul Jenderal Soedirman yang kita lihat selama ini di buku-buku sejarah. Kala itu, Jenderal Soedirman menemui Presiden Soekarno di Istana Negara Yogyakarta. Soedirman masih sedikit kesal terhadap sikap Bung Karno yang menyerahkan diri tertawan oleh Belanda. Lihat saja, gestur Jenderal Soedirman sedikit kaku. Pada saat itu, Bung Karnolah yang merangkul. Pose pertama terlihat kurang apik, kemudian Bung Karno meminta pemotretan diulang dengan posisi yang sama.

Lain lagi cerita fotografer Oscar Motuloh. Foto Bung Tomo yang sedang berpidato membakar semangat arek Surabaya tidak diambil di Hotel Orange saat perobekan bendera Belanda. Ternyata, foto yang selama ini kita kenal dengan peristiwa 10 November itu adalah foto pidato Bung Tomo di Mojokerto pada 18 Februari 1945 setelah kedatangan Bung Karno, di sebuah lapangan besar. Foto yang lebih besar memperlihatkan Bung Tomo berdiri di sebuah podium di bawah payung lurik besar.

Lalu bagaimana nilai foto tersebut dalam makna sejarah? "Sebagai sebuah identitas, fotografi bisa menjadi alat propaganda," ujar Oscar. Ada keberpihakan di sana. Memang begitulah. Setidaknya fotografer memiliki sikap dan prinsip yang harus terus mereka pegang teguh untuk dicerminkan pada karya-karyanya. ISMI WAHID (Koran Tempo)