Rehabilitan Skizofrenia Meriahkan Jakarta Biennale#14.2011

Rehabilitan Skizofrenia Meriahkan Jakarta Biennale#14.2011

Jakarta – Meski acara puncak baru akan digelar di penghujung tahun 2011, perhelatan seni rupa akbar internasional Jakarta Biennale#14.2011 sudah mulai diramaikan dengan beragam program paralel dan fringe events. Setelah konser “Blues For Freedom I” yang dihelat pada akhir Juli lalu, kini giliran para rehabilitant Skizofrenia yang akan berpartisipasi pada serangkaian acara pemanasan kali ini.  

Jakarta Biennale#14.2011 bertajuk, “Maximum City: Survive or Escape” kali ini menggandeng Kelompok Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) untuk menggelar event “Hospital Without Wall”.

Selain pameran lukisan karya para pengidap Skizofrenia, program yang akan berlangsung selama 16 – 28 Oktober 2011 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki itu, juga akan diramaikan dengan kegiatan melukis bersama para rehabilitant Skizofrenia. Kegiatan melukis bersama rencananya diikuti oleh sekitar 150 rehabilitan Skizofrenia. Kegiatan ini akan dilangsungkan beberapa saat sebelum pembukaan pameran diresmikan.

Selain pameran dan melukis bersama, serangkaian diskusi juga akan dilangsungkan demi memperkaya program. Diskusi bertema “Seni dan Gangguan Jiwa” dengan narasumber Paul Agusta (seniman) dan dua psikiater muda dr Nova Riyanti Yusuf SpKj serta dr Hervita Diatri SpKj. Bedah buku psikomemoar “Gelombang Lautan Jiwa” oleh Anta Samsara juga dilangsungkan setelah agenda diskusi.

Tentang Jakarta Biennale

Jakarta Biennale merupakan perhelatan seni rupa berskala internasional. Pesta seni akbar ini digelar setiap dua tahun, dan telah berlangsung sejak 1968 diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Kali ini Jakarta Biennale#14.2011 mengusung tema “Maximum City: Survive or Escape”. Tema itu merespon fenomena Jakarta yang meski telah bertumbuh melebihi daya dukungnya, namun tetap menarik untuk dihuni. Selalu muncul ide dan kreatifitas baru dalam menyiasati Jakarta: Maximum City.

Pada perhelatan kali ini, kurator mengundang lebih dari 200 seniman baik lokal, maupun internasional untuk ikut berpartisipasi. Selain galeri dan ruang-ruang indoor, karya-karya seni rupa raksasa akan dipamerkan di berbagai ruang publik seperti taman kota, jalan raya, mal, stasiun dan sebagainya.   

Informasi lebih lanjut mengenai program ini, silakan menghubungi:

Bagus Utomo, Ketua Umum Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia. 08158830269
Dimas Fuady, Head of Communications Jakarta Biennale#14.2011. 08156030863
Yeni Rosa Damayanti, Ketua Umum Perhimpunan Jiwa Sehat. 08158739082


Atau kunjungi website kami di www.jakartabiennale.org
dan ikuti kami di @jakartabiennale


Tentang “Hospital Without Wall”

Hospital without Wall sebagai konsep rumah sakit tanpa dinding atau rumah sakit tanpa batas, memuat perencanaan dan tata laksana perawatan kesehatan yang melibatkan semua pihak secara komprehensif dan efektif. Pertama kali dimunculkan di era 1950-an dari sebuah puskesmas di Palmares, Provinsi Alajuela, Costa Rica.

Konsep itu semula ditujukan untuk mengubah akses terhadap rumah sakit yang ada waktu itu dalam kondisi tertutup (hanya bagi kalangan tertentu) menjadi terbuka bagi siapa saja. Pada akhirnya, konsep Hospital Without Wall diikuti puskesmas lainnya di Alajuela seperti San Ramon, Alfaro Ruiz, Naranjo, dan Valverde Vega. Pemerintah setempat mendukung hingga menjadikannya sebagai gerakan nasional hingga berpengaruh di dunia internasional.

Seperti di Boston, Amerika Serikat, gerakan Hospital without Wall diadopsi pemerintah setempat untuk penanganan pasien gangguan mental. Perawatan penderita gangguan jiwa tidak harus di sebuah rumah sakit, tetapi di ruang-ruang kehidupan masyarakat secara umum. Seorang psikiater, psikolog, sosiolog, antropolog, seniman, dan pekerja sosial melibatkan diri dalam Hospital without Wall terhadap penderita gangguan jiwa.  

“Konsep Hospital without Wall untuk penderita gangguan jiwa terutama skizofrenia sudah saya galakkan sejak tahun 2000,” kata Ketua Umum Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Bagus Utomo.

Bagus mengatakan, konsep Hospital without Wall menuntut partisipasi semua pihak, termasuk pemerintah yang memegang peran sangat penting.  “Pemerintah mencanangkan program bebas pasung dengan data tahun lalu sebanyak 30.000 penderita gangguan jiwa dipasung, lalu tahun ini dinyatakan 20.000 penderita yang masih dipasung. Tetapi, tidak jelas apa saja program yang sudah dijalankan, lalu publik sulit mengetahui kebenaran data tersebut dan dari mana saja,” kata Bagus.

Visi pemerintah semestinya yang konkret dan jelas.  Bagus mengatakan, saat ini seperti dinyatakan Menteri Kesehatan pada peringatan hari Kesehatan Jiwa Sedunia, 10 Oktober 2011 di Rumah Sakit Marzuki Mahdi Bogor, hanya ada 70 puskesmas yang melayani pengobatan bagi pasien gangguan jiwa dari sekitar 9.000 puskesmas yang ada di Indonesia.

“Visi lebih konkret, misalnya pemerintah mau menargetkan peningkatan puskesmas yang melayani gangguan kejiwaan. Misalnya, tahun depan harus meningkat dari 70 puskesmas menjadi 2.000 puskesmas untuk bisa melayani gangguan jiwa dari sebanyak 9.000 puskesmas yang ada,” kata Bagus.  

KPSI bersama Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS)  merupakan himpunan keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang masalah kejiwaan. Pemeduli berprofesi psikiater, mahasiswa psikologi, psikolog, dan pekerja sosial turut mendukung komunitas dan organisasi ini.

Mereka bersama-sama telah membangunan Hospital without Wall dengan membangun kelompok dukungan bagi penderita gangguan jiwa. Saat ini mereka menempatkan konsep Hospital without Wall  ke dalam sebuah pameran seni rupa atas dukungan Panitia Jakarta Biennale 14.2011 dan Dewan Kesenian Jakarta.


Iva Kusuma, Ketua Panitia “Hospital Without Wall” 08158859835