Empu-empu tari tradisi hadir di panggung Maestro! Maestro! 3

 Empu-empu tari tradisi hadir di panggung Maestro! Maestro! 3

Cikini – Minggu, 5 Desember nanti, Dewan Kesenian Jakarta kembali kedatangan tamu istimewa. Disebut istimewa karena mereka adalah para empu tari tradisi nusantara yang diundang tampil pada gelaran Maestro! Maestro! Yang kali ini memasuki seri ketiga.

Maestro! Maestro! III akan menampilkan  Maestro Tari Kanjet Lasan,Tengen,dan Ngendau yaitu Ibu Pedaan dan Bapak Pelenjau dari Kutai Timur, Kalimantan Timur. Bapak I Gusti Ngurah Windia akan membawakan Tari Topeng Pajegan dari Bali, sedangkan Bapak A.Renon akan membawakan Tari Belian Sentiyu dari Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Kemaestroan mereka di bidang tari masing-masing itu tidak diragukan lagi karena tarian yang akan mereka tampilkan merupakan refleksi dari keindahan yang bernuansa simbolik serta impresif. Makna filosofis yang ditampilkan melalui kanjet lasan,kanjet tengen atau leto, merupakan penggambaran dari semangat juang para pemuda suku dayak kenyah terpadu dengan keindahan dan kelembutan gerak tari wanita suku kenyah adalah cerminan kehangatan perasaan yang dibawakan oleh Ibu Pedaan dan Bapak Pelenjau.

Topeng Pajegan yang akan ditampilkan dalam 3 karakter oleh Bapak I Gusti Ngurah Windia melukiskan kepiawaiannya dan kemaestroannya menterjemahkan perbedaan karakter halus,sedang dan gagah. Dalam pengembangannya sangat dimungkinkan penampilan topeng dalam karakter yang lain.

Maestro! Maestro! III akan diakhiri dengan satu bentuk tarian pengobatan oleh maestro Bapak A.Renon seorang Pebeliatn yang sampai saat ini masih melakukan pengobatan di suku benuak Kabupaten Kutai Barat.

Ketua Komite Tari DKJ Deddy Luthan berharap program Maestro! Maestro! yang menjadi bagian dari rangkaian program Desember DKJ 2010, akan memberi pengalaman estetik dan pengalaman artistik secara obyektif bagi khalayaknya.

“Seni tradisi tidak akan pernah mati dan selalu hidup dalam hati sanubari kita sebagai  masyarakat Indonesia”, katanya.


Profil penari dan tarian di Maestro! Maestro!3

MAESTRO TARI BALI
Menampilkan :
Tari Topeng Pajegan

Penari :
I Nyoman Catra

Pemusik :
LBK Saraswati. Pimpinan Kompiang Raka

I Nyoman Catra
Lahir di Denpasar, 31 Desember 1954. Sebagai seniman aktivitas berkeseniannya dimulai ketika dia masih duduk dibangku kelas empat SD. Pendidikan seni ditempuh di sekolah Konservatory Karawitan Bali - yakni sekolah menengah atas yang mengelola khusus program seni pertunjukan - mendorong kariernya tumbuh sebagai seniman. Gelar Sarjana Muda (BA) dalam bidang Seni Tari diperoleh dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar tahun 1977. Tahun 1978 dia diangkat langsung sebagai tenaga pengajar pada perguruan ibu asuhnya, sampai sekarang. Gelar SST (Seniman Setingkat Sarjana) dalam bidang tari diperoleh dari ASTI Yogyakarta tahun 1983. Gelar Master of Art (MA) dalam bidang Theater diselesaikannya di Emerson College Boston USA tahun 1996. Sedangkan gelar Philosophical Doctor dalam bidang ilmu Ethnomusicology diperoleh dari Wesleyan University Middletown Connecticut – USA , tahun 2005.

Selain aktif dalam pementasan untuk ritual keagamaan dan adat, pertunjukan touristik, program coordinator berbagai Festival, Juri; Nyoman Catra juga berkesempatan tampil di beberapa negara seperti Jepang, Thailand, Taiwan, Australia, Amerika Serikat, Canada, Peru dan beberapa Negara di Eropa; baik dalam kapasitas sebagai anggota misi kunjungan kesenian/kebudayaan, sebagai artistic director untuk pergelaran kesenian pada anjungan Indonesia di beberapa World Expo, maupun kerja kolaborasi dengan seniman kenamaan seperti Yulie Taimor, Larry Reed, Ron Jenkins, Lynn Kremer, Eugenio Barba.

Grant Fulbright Hays diterima sebagai Konsultan Kurikulum untuk Balinese Theater di Wesleyan University tahun 1982/3. Selama menempuh pendidikan di Amerika Catra mendapat financial support dari Asian Culture Council Foundation di New York .     
 
Topeng Pajegan
Topeng Pajegan dalam masyarakat Bali, seakan diidentikkan dengan topeng sidakarya. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa topeng pajegan dilakoni oleh hanya seorang aktor (pragina) dengan memainkan sejumlah karakter topeng, dipentaskan berkaitan erat dengan upacara keagamaan. Pada kenyataannya dewasa ini tidak selamanya tokoh-tokohnya diperankan pada penopengan nyidakarya tersebut dimainkan oleh hanya seorang pelaku. Sering dua, atau lebih penari topeng menarikan pada bagian lakonnya; hanya pada hadirnya topeng sidakarya dilakukan oleh seorang diantara mereka. Hadirnya Topeng Sidakarya pada akhir pertunjukan menjadi sangat penting, dan melalui topeng ini penari melakukan ritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan upacara yang sedang digelar.    
 
Dalam penafsiran yang lain, istilah pajegan juga memiliki konotasi dengan kata pajeegan, dari kata jeeg yang berarti sosok atau perawakan. Nyeeg, kelihatan berbetuk. Majeeg, berperawakan (Warna 1990: 282). Dalam Topeng Pajegan figur-figur leluhur dan perwatakan berbagai sosok figur yang dilakonkan dipersonifikasikan kedalam wajah-wajah tapel/topeng dari berbagai karakter baik yang bersifat tiruan realis maupun yang bersifat simbolis. Pelawatan bayang-bayang para leluhur terdahulu berjuang dengan kesungguhan hati menembus rintangan yang menghadang yadnya yang digelar (dalam lakon gejolak konflik kehidupan digambarkan) dan pada akhirnya dapat mencapai kesempurnaan, sidakarya difigurkan.  
 
Di samping itu istilah pajegan memiliki kedekatan formolasi kata dengan kata pajagan yang memiliki arti “menjaga”. Topeng di sini memiliki tugas sebagai penjagaan terhadap kemulusan pelaksanaan upacara dari gangguan anak-anak[1].

Disisi lain kata pajegan memiliki pengertian pajegjegan yang artinya meng-ajeg-kan; memberi pengukuhan tegaknya keyakinan (uleng pikayun) menuju sasaran yang tepat sesuai dengan tujuan yadnya yang digelar. Ajeg/jegjeg (tidak goyah) menjadi syarat keteguhan iman dalam beryadnya yang dilakukan sesorang dengan penuh ikhlas, kendati kendala dan cobaan sering menerpanya.

Dari pengertian yang mengemuka di atas, tersirat arti ganda. Secara realitas pertunjukan topeng dapat menarik perhatian banyak orang yang hadir utuk meramaikan upacara dan tidak banyak tugas penting yang mereka harus kerjakan sehingga hanya menunggu saat sang sulinggih melantunkan syair-syair weda dan susunan programatis upacara yadnya (eed karya) yang melibatkan hanya sejumlah orang saja. Disisi lain pertunjukannya juga diperuntukkan kepada kekuatan niskala agar simbol-simbol yang dipergelarkan dapat men-somya-kan kekuatan bhuta yang suka mengganggu ketentraman umat manusia mejadi sifat dewa.


MAESTRO KUTAI TIMUR
Menampilkan :
Tari Kanjet Lasan |Tengen |Ngendau
Suku Dayak Kenyah, Dusun tanjung Manis, Muara Ancalong
Kabupaten Kutai Timur – Kalimantan Timur

Tari Kanjet Lasan
Merupakan tarian tunggal yang dikaitkan dengan ritual. Dahulu tarian ini biasa dilakukan oleh Suku Dayak Kenyah sebelum dan sesudah berperang. Meski dengan gerak tarian yang halus, tarian yang menggunakan Mandau serta tameng ini bertujuan  memberikan semangat, keteguhan kepada para awak tempur. Zaman yang terus berubah dan berkembang, membuat Tari Kanjet Lasan sudah tidak lagi digunakan sesuai fungsi aslinya, melainkan hanya sebagai tontonan.

Ngendau | Bersyair
Merupakan syair tentang kehidupan, lingkungan dan heroisme. Ngendau dimainkan sebelum

Penari :
Ibu We Pedaan | Bapak Pelenjau | Deplin Aprillia B

Pemusik :
Pelambat |Pesemu|Armen|Aat|Godil.

We Pedaan :
Lahir di Long Uroq pada 3 Maret 1943. Mulai menari sejak belia di kampung asalnya Long Uroq. Ibu dengan dua anak ini mulai tampil menari di Jakarta sejak 1985. Selain itu sering terlibat dalam perayaan hari jadi Kota Tenggarong yang dikenal  Erau, We Pedaan yang punya nama alias Buaq Aring juga pernah tampil di Gedung Putih, Amerika Serikat. Pertama kali tampil menari di Jakarta pada 1985, deangan tarian tradisionalnya ia juga berkesempatan melawat ke berbagai belahan dunia. Ia tampil di Belanda, Inggris dan Hongkong.

Amay Pelenjau
Seniman tari kelahiran Long Uroq pada 2 April 1941 ini merupakan langganan pengisi acara hari jadi Kota Tenggarong. Selain menari, ia juga membuat Hulu Parang dan Perisai (kelembit) sebagai hobinya. Pada 1982 ia ke Jakarta untuk pertama kalinya tampil di ibukota. Bapak yang punya 10 orang cucu dan cicit ini  punya nama asli Lenjau Bit dengan ciri khas Dayak Kenyah. Setelah dikaruniai cucu, namanya berubah menjadi Pelenjau hingga sekarang.
 
Deplin Aprillia Bertho
Lahir di Long Lees pada 6 April 2003. Pelajar ke 2 SD ini mulai ikut berlatih menari sejak usia 5 tahun. Di acara tertentu di kampungnya ia kerap tampil bersama group tari yang diasuh oleh ibunya. Prestasi terkini yang ia raih yaitu juara 3 pertandingan Datun Julut saat perayaan Natal Gabungan 2009 di Rantau Sentosa. Selain berprestasi di bidan Tari, Deplin Aprillia Bertho yang biasa disapa Gelen juga gemilang di bidang akademis. Saat kenaikan SD kelas 2, ia meraih juara 1 di kelasnya. Gelen sudah dua kali dibawa menari ke Jakarta oleh neneknya,  Rut Luhat. Dengan usianya yang masih sangat muda, ia bermimpi kelak akan terkenal seperti We Pedaan dan dapat penghargaan dari bapak Presiden.


MAESTRO KUTAI BARAT
Menampilkan :
Tari Belian Sentiyu
Desa Engkuni Pasek. Kabupaten Kutai Barat - Kalimantan Timur

Sebuah proses pengobatan dari leluhur yang secara turun temurun kepada tukang beliannya, berkomunikasi dengan alam dan roh halus untuk melawan pengobatan dengan kesaktian sehingga penyakit tertentu  bisa disembuhkan dengan memberikan sesaji beraneka ragam sebagai imbalan untuk roh halus.

Penari :
A.Renon

Pemusik :
Nata,Muncu,Yulius gerato,Deismetris lis.

A.Renon

Pengalaman tampil :
- Tahun 2002 Pentas di JCC Jakarta (Expo)
- Tahun 2003 Pentas di Gedung Plaza Jakarta
- Tahun 2004 Pentas di Kemang Jakarta
- Tahun 2005 Pentas di Senayan Jakarta
- Tahun 2006 Pentas di Taman Mini Indonesia Indah
- Tahun 2007 Pentas di Sabah Malaysia
- Tahun 2008 Pentas di Gedung Akmajaya dan gedung-gedung Internasional lainnya.