'ADUH', mempertanyakan rasa kemanusiaan kita

Drama ‘Aduh’ karya Putu Wijaya dimulai dengan suasana belasan orang yang tengah membangun pura. Namun suasana riuh mendadak berubah menjadi kalut setelah mereka kedatangan seseorang yang tampaknya sakit.

 

‘Waduh, sakit ya?’,’Jangan-jangan-jangan bisu’, ujar mereka saling menimpali. Yang ditanya tetap bergeming. Percakapan terus berlangsung hingga berujung perdebatan diantara mereka yang menganjurkan untuk menolong dengan sebagian lagi yang menyarankan untuk membiarkan saja si sakit merana.

 

‘Mana tahu dia sakit? Ditanya saja diam!’, ‘alaah, sudah biarkan! Dikiranya kita bisa tertipu seperti waktu itu.’, demikian sekelumit kebimbangan yang muncul dalam drama 3 babak itu. Perdebatan macam itu terus berlangsung hingga akhinya di sakit mati dan akhirnya dibuang begitu saja, laksana binatang.

 

Drama ‘Aduh’ yang dimainkan Teater Pangkeng pada acara pembukaan Festival Teater Jakarta 2008 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat itu menyinggung soal stereotip masyarakat kota yang semakin cenderung individualistis. Enggan menolong sesama dan menomorsatukan bicara.

 

Drama arahan sutradara cukup menghibur. Itu setidaknya diakui Embie C Noer, salah seorang dewan juri festival. ‘Secara keseluruhan, cukup menyenangkan.’,ujarnya.

 

Namun Embie memberi sejumlah catatan dalam pertunjukan yang disutradarai Yamin Azhari itu. Menurut Embie, pertunjukkan selama lebih 2 jam itu sebetulnya cukup meriah. Tata panggung menghadirkan 3 bangunan serupa Pura, sejak awal menghadirkan nuansa Bali yang kental. Namun, kata dia, kurang pandainya penerjemahan naskah, membuat irama pertunjukkan miskin. ‘Pertunjukkan terasa monoton’, ujarnya.

 

‘Mereka tertolong oleh naskah drama yang kuat. Padahal sejak ¾ pertunjukkan, para pemain dan penonton sama-sama kelelahan. Itu karena iramanya tak dikontrol. Terlalu digeber di awal’. Ujarnya.

 

Kekurangcermatan menerjemahkan naskah, menurut Embie juga terlihat dari sedikitnya adegan yang bisa membuat penonton tertawa. Padahal menurut dia, banyak kelucuan-kelucuan yang semestinya bisa muncul dari naskah karya Putu Wijaya itu. (Dimas Fuady/Indro-DKJ)