Miss Tjitjih kembali mementaskan "Kuntilanak Waru Doyong"

Miss Tjitjih kembali mementaskan "Kuntilanak Waru Doyong"

Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih

"KUNTILANAK WARU DOYONG"

Sutradara : Imas Darsih

 Sabtu, 26 Mei, 2012 | Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jln. Kabel Pendek, Cempaka Baru, Jakarta Pusat.

 

 “Kuntilanak Waru Doyong” telah beberapa kali dipentaskan dengan sukses oleh Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih, termasuk dipentaskan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki pada 29 Desember 2011, kali ini Miss Tjitjih akan kembali mementaskan “Kuntilanak Waru Doyong” 26 Mei 2012 di GK.Miss Tjitjih,  Jln. Kabel Pendek, Cempaka Baru, Jakarta Pusat.

Cerita ini tentang tragedi horor yang bermula dari kecemburuan seorang istri muda kepada madunya yang berakhir dengan banyak kematian. Cerita ini tidak terlalu jelas kapan mulai dimainkan oleh Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih, berdasarkan ingatan beberapa pemainnya dikatakan, ada kemungkinan cerita ini dibuat oleh Bapak Harun Bavagih atau Bapak Adim Dimyati (pembuat cerita “Si Manis Jembatan Ancol”, yang kemudian difilmkan – produsernya adalah Turino Junaedi, dan beberapa pemain Miss Tjitjih ikut terlibat juga dalam film tersebut).

Kuntilanak Waru Doyong akan dimainkan oleh seniman dan seniwati Miss Tjitjih dibawah arahan sutradara Imas Darsih dan Asisten Sutradara Cep Parlan. Awal cerita ini telah menarik kita pada suasana mencekam ketika isteri pertama diguna-guna oleh isteri muda sehingg isteri tua tewas dengan misterius. Selanjutnya, dalam keluarga itu terjadi kecemburuan di kedua anak perempuan dari ibu yang berbeda, kecemburuan dari Rukiah sebagai anak dari isteri muda kepada Rohana, anak isteri pertama yang dianggap telah merebut Anwar.

Kehidupan Rohana yang bahagia terengut oleh Rukiah sehingga dia memutuskan gantung diri dalam keadaan hamil di bawah pohon waru yang angker dengan kuntilanak. Pohon waru di kampung itu semakin anker, karena selain kuntilanak yang pertama, Rukiah yang bunuh diri itupun menjadi penunggu pohon itu. 

Penduduk yang semakin merasa terganggu, akhirnya memanggil sang Dukun. Pada suatu malam yang dipenuhi halilintar dan hujan lebat itu, Dukun dengan sombong berusaha membunuh kedua kuntilanak dengan cara memaku pohon waru. Tetapi, Dukun tersambar halilintar dan akhirnya malah dibunuh oleh kedua kuntilanak penunggu pohon waru tersebut.